Bagi Mahasiswa yang mengikuti perkuliahan Pertamanan (Landscape Design) untuk hari/tanggal Selasa, 26 Mei 2009 Perkuliahan Pertamanan (Landscape Design) dilaksanakan pukul 10.30 WIB s/d 11.00 WIB di Ruang Kuning. Informasi format penyusunan tugas akhir semester, dan evaluasi (per kelompok) capaian tugas akhir tersebut. Terima kasih…
K o n s e p R u a n g
Ruang pada dasarnya terjadi oleh adanya hubungan antara sebuah obyek dan manusia yang melihatnya. Hubungan itu mula-mula ditentukan oleh penglihatan, tetapi bila ditinjau dari pengertian ruang secara arsitektur, maka hubungan tersebut dapat dipengaruhi oleh penciuman, pendengaran dan perabaan. Sering terjadi bahwa ruang yang sama mempunyai kesan atau suasana yang berbeda sama sekali, karena dipengaruhi oleh adanya hujan, angin ataupun terik matahari dan sebagainya. Lao Tzu mengatakan : “ Meskipun tanah liat dapat dibentuk menjadi sebuah jambangan, tetapi arti yang sesungguhnya dari jambangan tersebut adalah ‘KEKOSONGAN’ yang terkandung didalam bentuk jambangan itu sendiri. Kata – kata yang mencakup pengertian yang sangat padat yang memberi peringatan pada arsitek bahwa untuk menciptakan ‘ ruang kosong’ didalam jambangan itu tetap di perlukan tanah liat.
Pada umumnya dikatakan bahwa ruang dalam dibatasi oleh tiga bidang : sebuah lantai, sebuah dinding dan sebuah langit-langit. Seperti pada ruang dalam maka pada ruang luarpun mempunyai elemen-elemen antara lain : tekstur, patra, bentuk, warna, dimensi, perbedaan tinggi lantai.
Ruang luar adalah ruang yang terjadi dengan membatasi alam. Ruang luar dipisahkan dari alam dengan memberi ‘frame’, jadi bukan alam itu sendiri yang dapat meluas tak terhingga.
Ruang luar juga berarti sebagai lingkungan luar buatan manusia dengan maksud tertentu, suatu ruang sebagai bagian dari alam. Kadang – kadang ruang luar disebut sebagai ‘Arsitektur Tanpa Atap’. Atau dengan perkataan lain dari suatu plot bangunan maka bagian – bagian dibawah atap disebut ruang dalam, dan bagian – bagian yang tak beratap disebut ruang luar. Jadi jelaslah bahwa ruang luar termasuk didalam pengertian arsitektur, yang berbeda dengan alam; termasuk juga kebun dan ruang terbuka (Asihara, Yoshinabu, Gunadi, S, Merencana Ruang Luar (terjemahan), Fakultas Teknik Arsitektur ITS, 1974)
Ruang luar dianggap sebagai arsitektur tanpa atap, tapi dibatasi oleh dua bidang: Lantai dan dinding atau ruang yang terjadi dengan menggunakan dua elemen pembatas. Untuk menjaga agar ruang luar mempunyai nilai sebagai ‘Arsitektur Tanpa Atap’ maka harus direncanakan dengan hati-hati supaya tidak terjadi perluasan alam yang tak tertbatas. Disamping itu bidang horisontal perlu diperhatikan.
Courtyard
courtyard (noun)
place: yard, area, backyard, courtyard, court, close, open space enclosure: cloister, courtyard, place (The Original Roget’s Thesaurus of English Words and Phrases (Americanized Version) is licensed from Longman Group UK Limited. Copyright © 1994 by Longman Group UK Limited.
Courtyard: an open area partially or fully enclosed by buildings or other walls, adjacent to or within a castle house, or other building (M. Harris,Cyril, Dictionary of Architecture and Construction, Mc Graw-Hill, Inc., 1975)
Courtyard: an open space surrounded by walls or buildings, adjoining or within a building such as a large house or housing complex (Excerpted from The American Heritage Dictionary of the English Language, Third Edition Copyright © 1992 by Houghton Mifflin Company. Electronic version licensed from Lernout & Hauspie Speech Products N.V.)
Melakukan perjalanan merupakan aktifitas yang sering kali dilakukan, apakah dengan kesadaran penuh atau hanya rutinitas dalam keseharian. Journey itu sebuah proses, di mana di dalam proses itu terdapat proses melihat, proses memandang, dan proses untuk berbagi dengan mendiskusikannya. Berbekal pengetahuan tentang senirupa yang telah didapatkan, membuat catatan atas apa yang telah ditemui dalam perjalanan tersebut menjadi penting. Dokumentasikan dan kemudian menelusuri lebih lanjut (obyek visual tersebut) yang dianggap dapat menjadi pengalaman visual (memori visual) paling kuat. Visual Journey mengandung perwujudan pengalaman ruang, interaksi ruang, manusia, peristiwa dan materialitas (space, body, event and materiality).
Aktifitas ‘Visual Journey’
1. Perjalanan (siang-malam)
2. Dokumentasi
3. Catatan
4. Analisa
5. Laporan
Jalur yang paling langsung antara A dan B adalah jalan lurus (1), pemecahan yang paling jelas untuk sirkulasi pejalan kaki adalah menghubungkan seluruh pintu atau titik-titik pencapaian (2). Sirkulasi yang tidak begitu formal seperti di dalam sebuah taman raya dapat dibuat berkeliling, menghubungkan pemandangan-pemandangan dan tempat-tempat menarik. Jarak tidak merupakan keberatan, bahkan kenyataannya menjadi menyenangkan (4). Penyimpangan dari pencapaian jalur lurus dapat diterapkan sepanjang jalur lurus dapat diterapkan sepanjang jalur tersebut tidak terlalu memutar dan akan lebih berhasil bila ditonjolkan dengan adanya pepohonan (3), atau dibuat sekali oleh tanda-tanda / petunjuk taman (5), (6).
Ruang publik atau taman kota yang ada di Surakarta yang cukup menonjol (Sidharta dan Eko Budiharjo, 1988;37) adalah ;
1. Taman Sriwedari
Letaknya di tepi jalan Salamet Riyadi, nama Sriwedari diambil dari ceritera pewayangan, yaitu Harjuna Sasrabahu memindah Taman Sriwedari ke Maospati. Pemindahan ini dilakukan oleh Patih Suwanda (Sumantri) untuk tempat hiburan bagi isteri Prabu Harjuna Sasrabahu. Sriwedari yang ada sekarang ini dibangun atas perintah Sunan Paku Buwana X untuk tempat hiburan rakyat dan Abdi Dalem serta Sentana Dalem dan biasa disebut “Kebon Raja”. Tahun 1905 mulai dibangun kebun binatang. Tahun 1914 mulai ada Bioskop dan pada tahun 1917 mulai ada wayang orang dan wayang kulit (Radjiman, 1986).
Di sebelah Timur taman Sriwedari terdapat Museum Radyapustaka, tempat menyimpan dan merawat benda-benda bersejarah lama dan hasil sastra lama dan baru Jawa. Museum ini diresmikan pendiriannya oleh Patih Kanjeng Raden Mas Adipati Sasradiningrat IV tahun 1907.
Sekarang di dalam taman ini tersedia berbagai macam fasilitas bermain untuk anak-anak dan remaja, gedung bioskop, restaurant dan pusat jajanan tradisional, museum (Museum Radyapustaka) dan toko-toko souvenir. Dan yang terkenal di Taman Sriwedari adalah program pementasan wayang orang setiap malamnya, juga kegiatan pasar malam yang diadakan selama bulan Ramadhan/Pasa untuk menyambut perayaan Idul Fitri bagi kaum Muslim.
2. Taman Balekambang
Terletak di sebelah utara Manahan (bale ialah rumah; kambang artinya mengapung; balekambang artinya ialah rumah yang mengapung di tengah telaga buatan, yaitu Pemandian Bale Kambang). Bale Kambang disebut pula Partinitituin, artinya taman Partini. Dahulu taman ini dibuka pada hari Rabu Kliwon, tanggal 26 Sapar 1853 atau 1922 Masehi oleh KGPAA Mangkubumi VII untuk kenang-kenangan terhadap puterinya yang bernama Bendara Raden Ajeng Partini, yang kemudian kawin dengan Prof. Dr. Husein Jayadiningrat. Keberadaan taman kota yang satu ini kondisinya sekarang sudah tidak terawat, sebenarnya banyak fasilitas hiburan yang terdapat di dalamya. Gedung pertunjukan ketoprak (Ketoprak Cokrogiyo), Arena Srimulat dan diskotek dan karaoke. Taman kota ini sekarang digunakan oleh warga sebagai arena untuk lomba burung berkicau, karena tempatnya yang teduh, rindang dan sejuk.
3. Taman Jurug
Taman yang terletak di tepi Bengawan Solo(Solo Timur) ini juga merupakan taman kota yang menyediakan banyak fasilitas rekreasi. Area permainan anak, kebun binatang, kolam renang, restaurant, dan lain sebagainya. Lagu Bengawan Solo yang diciptakan Gesang ikut juga memperkenalkan keberadaan taman kota ini, karena di dalamnya terdapat patung Gesang dengan area/panggung untuk bermain musik keroncong.
4. Taman Banjarsari
Merupakan taman kota yang terletak di pusat kota, di taman kota ini terdapat Monumen Perjuangan 45. Kondisinya yang nyaman dengan banyaknya pepohonan dan ruang terbuka yang cukup memadai untuk kegiatan olah raga di pagi hari oleh warga kota. Letaknya yang strategis karena dekat dengan Mangkunegaran, Pasar Legi, Stasiun Balapan, dan kawasan pendidikan, keberadaan taman kota ini menjadi vital.
(tulisan tentang Sejarah Taman Kota dapat dilihat di BABAD SALA karya R.M.Sayid, di Perpustakaan Reksopustoko, Puro Mangkunegaran)
Ruang terbuka publik berfungsi sebagai civic centre, maka terlebih dahulu harus dipahami mengenai civic space. Civic space menurut Gibbert (1972) memiliki pengertian yang tidak dapat dipisahkan, yang artinya ruang terbuka sebagai wadah yang dapat digunakan untuk aktivitas penduduk sehari-hari. Sedangkan pengertian civic centre secara harafiah adalah pusat kegiatan dimana masyarakat melakukan aktifitasnya.
Maka pengertian ruang terbuka publik sebagai civic centre adalah suatu ruang luar yang terjadi dengan membatasi alam dan komponen-komponennya (bangunan) menggunakan elemen keras seperti pedestrian,jalan, plaza, pagar, dsb; maupun elemen lunakseperti tanaman dan air sebagai unsur pelembut dalam lansekap dan merupakan wadah aktivitas masyarakat yang berbudaya dalam kehidupan kota.
Aktivitas yang dilakukan pada ruang terbuka publik ini pada prinsipnya merupakan tempat dimana masyarakat dapat melakukan aktivitas sehubungan dengan kegiatan hubungan sosial lainnya. Dengan demikian ruang terbuka publik bukan saja berupa ruang luar yang bersifat sebagai perancangan lansekap untuk taman kota saja atau daerah hijaudalam kota tetapi lebih condong pada keterlibatan manusia di dalamnya sebagai pemakai fasilitas tersebut.
Menurut Ardiyanto (1998) secara berurutan ruang terbuka publik tingkatan dan fungsinya terdiri atas :
· Pocket park : yaitu taman yang dikelilingi oleh sekelompok bangunan, dinikmati oleh penghuni lingkungan di sekelilingnya.
· Play-lot : adalah ruang yang menghubungkan beberapa kelompok lingkungan, berfungsi untuk menampung kegiatan-kegiatan yang melibatkan penghuni dari blok lain.
· Play ground : adalah ruang publik yang berfungsi sebagai tempat bermain, dengan fasilitas yang lebih lengkap, merupakan pusat rekreasi bagi penghuni suatu kawasan.
· Urban park: adalah ruang publik yang terletak pada pusat kota, berfungsi untuk aktivitas-aktivitas yang melibatkan warga kota, dikunjungi oleh masyarakat dari berbagai kawasan, baik di dalam kota yang sama maupun yang berasal dari kota lain.
Menurut Spreiregen (1965), suatu tingkatan Ruang Publik dalam skala pembangunan kota dapat ditentukan berdasarkan tingkat skala fungsi yang dilayanI yaitu :
a. Skala Metropolitan.
Ruang Publik oada skala Metropolitan ini lebih terfokus pada fungsi pengorganisasian ruang secara makro, sebagai penghubung (linkage) terhadap daerah-daerah sub urban, kota-kota satelit serta menghubungkan bagian-bagian kota yang lain dan diperkuat oleh kelompok bangunan utama yang dominan. Bangunan-bangunan utama tersebut dapat berfungsi sebagai “Landmark” dan sebagai orientasai terhadap kawasan sekitarnya.
b. Skala Lingkungan Kota
Pada skala pelayanan kota ini diarahkan pada penggunaan aktivitas publik dalam bentuk taman, tempat bermain, lapangan olah raga, jalur pedestrian, plaza, mall, boulevard, jalan sungai, taman rekreasi dan sebagainya.
Secara totalitas selain mempunyai fungsi kota dan fungsi pelayanan masyarakat, sebagai unsur kelegaan dan kenyamanan fisik, sebagai unsur estetika dan kenyamanan batin bagi warga kotanya.
Ruang publik dalam skala kota ini dapat dibedakan menurut letaknya, yaitu :
- Ruang Publik pada pusat kota
- Ruang Publik pada daerah industri
- Ruang Publik pada lingkungan perumahan
Ruang publik yang dimaksud secara umum pada sebuah kota, menurut Project for Public Spaces in New York tahun 1984, adalah bentuk ruang yang digunakan manusia secara bersama-sama berupa jalan, pedestrian, taman-taman, plaza, fasilitas transportasi umum (halte) dan museum.
Pada umumnya ruang publik adalah ruang terbuka yang mampu menampung kebutuhan akan tempat-tempat pertemuan dan aktivitas bersama di udara terbuka. Ruang ini memungkinkan terjadinya pertemuan antar manusia untuk saling berinteraksi. Karena pada ruang ini seringkali timbul berbagai kegiatan bersama, maka ruang-ruang terbuka ini dikategorikan sebagai ruang umum.
Sedangkan menurut Roger Scurton (1984) setiap ruang publik memiliki makna sebagai berikut: sebuah lokasi yang didesain seminimal apapun, memiliki akses yang besar terhadap lingkungan sekitar, tempat bertemunya manusia/pengguna ruang publik dan perilaku masyarakat pengguna ruang publik satu sama lain mengikuti norma-norma yang berlaku setempat.
Meskipun sebagian ahli mengatakan umumnya ruang publik adalah ruang terbuka, Rustam Hakim (1987) mengatakan bahwa, ruang umum pada dasarnya merupakan suatau wadah yang dapat menampung aktivitas tertentu dari masyarakatnya, baik secara individu maupun secara kelompok, dimana bentuk ruang publik ini sangat tergantung pada pola dan susunan massa bangunan. Menurut sifatnya, ruang publik terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :
1. Ruang publik tertutup : adalah ruang publik yang terdapat di dalam suatu bangunan.
2. Ruang publik terbuka : yaitu ruang publik yang berada di luar bangunan yang sering juga disebut ruang terbuka (open space).
Menurut Zoer’aini (1997) tujuan umum pembangunan suatu kota adalah untuk pertahanan hidup manusia yang terdiri atas dua aspek yaitu tetap hidup dan mempertinggi nilai hidup. Secara umum dapat dikemukakan bahwa pembangunan kota mempunyai fungsi dan tujuan sebagai berikut :
1. Kehadiran sebuah kota memiliki tujuan untuk memenuhi kebutuhan penduduknya agar dapat bertahan dan melanjutkan hidup, serta meningkatkan kualitas kehidupan.
2. Komponen-komponen kota adalah penduduk, pemerintah, pembangunan fisik, sumberdaya alam dan fungsi.
3. Penduduk kota meliputi jumlah (dipengaruhi oleh tingkat kelahiran, kematian, migrasi), dan kecenderungan penyebaran (umur, jenis kelamin, etnik, sosial ekonomi, agama dan lainnya.
4. Pentingnya kehadiran flora dan fauna.
5. Pembangunan fisik yang meliputi tipe bentuk (konfigurasi), kepadatan (densiti), differensiasi dan konektiviti.
6. Sumberdaya terdiri dari sumberdaya alam dan sumberdaya manusia.
7. Kota berfungsi terutama sebagai pusat pemukiman dan pelayanan kerja, rekreasi dan transportasi.
8. Pada umumnya kota menghadapi masalah ekonomi, masalah tata ruang dan masalah linhgkungan hidup.
Menurut Eko Budihardjo (1998) ruang terbuka adalah bagian dari ruang yang memeiliki definisi sebagai wadah yang menampung aktivitas manusia dalam suatu lingkungan yang tidak mempunyai penutup dalam bentuk fisik.
Ruang terbuka memiliki beberapa fungsi sebagai berikut :
1. Fungsi umum :
· Tempat bermain dan berolah raga, tempat bersantai, tempat komunikasi sosial, tempat peralihan, tempat menunggu
· Sebagai ruang terbuka, ruang ini berfungsi untuk mendapatkan udara segar dari alam.
· Sebagai sarana penghubung antara suatu tempat dengan tempat lain.
· Sebagai pembatas atau jarak di antara massa bangunan.
2. Fungsi ekologis :
· Penyegaran udara, menyerap air hujan, pengendalian banjir, memelihara ekosistem tertentu.
· Pelembut arsitektur bangunan.
Terbentuknya ruang terbuka dipengaruhi oleh beberapa faktor baik oleh alam maupun lingkungan buatan, dibedakan sebagai berikut :
a. Pembatas, dimana ruang selalu terbentuk oleh tiga elemen pembentuk ruang yaitu bidang alas, bidang langit-langit dan bidang pembatas/dinding
b. Skala, dalam arsitektur menunjukkan perbandingan antara elemen bangunan atau ruang dengan elemen tertentu yang ukurannya sesuai dengan kebutuhan manusia. Skala terdiri atas 2 (dua) macam :
· Skala manusia, perbandingan ukuran elemen atau ruang dengan dimensi tubuh manusia
· Skala generik, perbandingan elemen bangunan atau ruang terhadap elemen lain yang berhubungan dengan sekitarnya.
c. Bentuk, yang terdiri atas bentuk dua dimensi dan tiga dimensi. Dapat juga dikategorikan dalam dua bagian bentuk alami dan buatan. Menurut penampilan terbagi atas : bentuk teratur, bentuk lengkung dan bentuk tidak teratur.
Setasiun kereta api berfungsi sebagai tempat pemberhentian kereta api atau terminal, sehingga didalamnya sangat banyak aktifitas yang terjadi. Lalu lintas manusia, barang, dan layanan jasa yang lainya terjadi didalamnya.
Keberadaan setasiun kereta api sangat diperlukan sekali dalan pengelolaan jasa layanan transportasi ini. Sebagai alat transportasi lokal yang menghubungkan antar kota, hubungan regional dapat terjalin dengan mudah. Setasiun kereta api mempunyai keunikan tersendiri dalam sebuah karya arsitektur. Setasiun kereta api menyajikan tantangan ganjil terhadap bidang arsitektur, terjadi cukup banyak kesempatan untuk membicarakan persimpangan antara bangunan utama dengan bangsal kereta api. Seni tidak memiliki progres yang cepat sebagai barang industri. Hasilnya bisa dilihat bahwa mayoritas gedung-gedung untuk pelayanan trnsportasi kereta api pada bentuk dan pengaturannya. Beberapa setasiun kereta api tampak diatur rapi, tetapi tetap memiliki sebagai bangunan industri atau bangunan temporer (sementara) dibandingkan dengan bangunan untuk pelayanan masyarakat lainnya.
Ekspresi arsitektur setasiun kereta api sebagai bangunan transportasi sangat kental sekali, memudahkan orang umum menandakan keberadaannya. Setasiun kereta api berfungsi juga sebagi gerbang kota atau main enterance, setiap kali orang datang ke sebuah kota dengan layanan jasa transportsai kereta api, kesan pertama yang dapat ditangkap adalah dari keberadaan setasiun yang ada. Sebagai pintu masuk atau gerbang kota yang ada di pusat kota tentu saja keberadaan setasiun kereta sangat diperhitungkan, hal ini dapat diwakili dengan arsitektural dari bangunan tersebut.
Dalam sebuah kota setasiun kereta api dapat atau sering dijadikan sebuah landmark kota. Kehadirannya menjadi penting dalam sebuah komunitas perkotaan. Kemegahan dan nilai historis yang terkandung didalam bangunan tersebut menjadikan setasiun kereta api sebuah karya arsitektur yang menawan.

